Override Control
Override control merupakan salah
satu konfigurasi process control yang digunakan untuk menjaga agar operasi unit
proses selalu berada pada kondisi yang dianggap aman. Override control,
ditunjukkan dengan 2 buah kontroler dan 1 kontrol valve, kontroler kedua bisa
meng-overide kontroler pertama. Ini banyak digunakan di kolom distilasi
(Buckley, 1985; Shinskey, 1981) dan combustion system (Singer, 1981).
Contoh
override kontrol:
Steam header harus dipertahankan pada tekanan minimum.
Steam dari header digunakan untuk memanaskan air pada heat exchanger. Suhu air
panas dikendalikan oleh TIC-101. Hal ini sangat penting untuk tekanan berada
pada nilai minimum sehingga suhu air berada pada setpointnya.
Setpoint kontrol tekanan steam header di set pada niai
minimum (dibawah tekanan normal). Jika tekanan turun dibawah setpointnya,
output pengontrol tekanan akan menurun. Ketika output pengontrol tekanan lebih
kecil dari output pengontrol suhu, maka kontroller tekanan akan mulai menutup
katup. Suhu air akan jatuh dibawah nilai setpointnya, tetapi yang lebih penting
adalah mempertahankan tekanan steam header.
Untuk lebih menjelaskan prinsip
kerja override control , perhatikan kembali contoh sistem
tanki pemanas.
Pada sistem ini, air panas dalam tanki dipompa
keluar dari tanki menggunakan pompa PM. Pada operasi normal, level
air dalam tanki berada pada ketinggian antara h1 dan h2. Pada kondisi tertentu,
misalnya aliran air dingin yang masuk berkurang atau kebutuhan akan air panas
dari tanki meningkat, level air dalam tanki bisa turun melewati h2, dimana pada
kondisi ini NPSHA sistem tidak cukup sehingga menyebabkan pompa PM kavitasi
yang bisa merusak pompa tersebut. Untuk menjaga agar tidak terjadi kavitasi
pada pompa PM, maka level air dalam tanki harus dijaga agar jangan sampai
berkurang melewati h2. Untuk maksud ini, akan digunakan konfigurasi kontrol
seperti pada gambar berikut.
Konfigurasi ini menggunakan 2 controller,
yaitu level control LC dan flow control FC.
Digunakan juga low selector LS untuk menyeleksi output control
mana yang akan mengendalikan elemen kontrol akhir (final control element).
Sebagai elelemen kontrol akhir adalah pompa PM yang kecepatan putarnya berubah-ubah
(variable speed pump) sesuai perubahan output kontrol sehingga jumlah air yang
dipompa bisa diatur dengan mengatur besar kecilnya output kontrol. Jika level
berada diatas setpoint LC, maka output LC harus naik agar PM berputar lebih
cepat untuk menurunkan level, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, LC harus
bekerja dalam mode reverse action (Algoritma yang digunakan
adalah Error=Setpoint-Process Variabel). Berbeda dengan LC, FC diset pada
mode direct action. Penjelasannya adalah sbb: jika flow berada
diatas setpoint maka output FC harus turun agar putaran PM dapat turun untuk
mengurangi flow.
Selanjutnya, mari kita lihat cara kerja
konfigurasi kontrol ini. Diasumsikan suatu saat level tanki pada kondisi
maksimum h1 dan kecepatan alir air panas yang keluar sama dengan setpoint FC.
Pada kondisi ini output LC lebih besar dari output FC, sehingga yang
mengendalikan putaran pompa PM adalah FC. Kemudian diasumsikan terjadi
penurunan aliran air dingin yang masuk ke tanki sehingga level tanki ikut
turun. Penurunan level menyebabkan output LC juga turun. Jika penurunan output
LC melewati besarnya output FC, maka pengendalian putaran PM akan diambil alih
oleh LC yang bereaksi menurunkan putaran PM, sehingga aliran air panas keluar
tanki juga menurun. Dengan mengecilnya aliran air panas yang keluar tanki, maka
penurunan level tanki dapat dihentikan/dicegah untuk tidak melewati level
kritis h2 sehingga pompa PM tetap bekerja pada kondisi aman/tidak terjadi
kavitasi.
Pada contoh ini bisa dilihat bahwa terjadi
pengambil alihan dari FC ke LC, jadi seolah-olah LC mengesampingkan/menolak
(override) adanya FC, itu sebabnya mengapa konfigurasi kontrol ini
disebut override control. Contoh penggunaan
override control lainnya adalah pada combustion control boiler atau furnace.
Seperti diketahui bahwa akumulasi bahan bakar yang tidak habis terbakar dalam
ruang bakar merupakan potensi yang membahayakan dalam pengoperasian suatu unit
boiler atau furnace, sehingga harus dihindari. Untuk meyakinkan bahwa semua
bahan bakar yang masuk ke ruang bakar habis terbakar maka harus ada cukup
excess air (udara). Untuk maksud ini, konfigurasi override control digunakan
seperti pada gambar berikut.
Pada konfigurasi ini, override control menggunakan
High Selector (HS) dan Low Selector (LS). Secara umum mekanisme
kerja konfigurasi kontrol ini adalah apabila ada kebutuhan penambahan beban,
maka yang ditambah terlebih dahulu adalah udara bakar, baru kemudian bahan
bakarnya, begitu pula sebaliknya jika terjadi penurunan beban, maka yang
dikurangi lebih dahulu adalah bahan bakarnya baru kemudian udara bakar. Dengan
mekanisme seperti ini diharapkan excess air selalu terjaga sehingga bahaya
akibat terakumulasinya bahan bakar yang tidak terbakar bisa dihindari. Yang istimewa dari
pengontrolan override ini adalah munculnya selektor (bagian yang bertanda <
atau > ) Selektor ini bisa menentukan umpan mana yang
digunakan untuk menyesuaikan parameter.
Penggunaan high-low
selector pada combustion control boiler seperti gambar diatas, dimaksudkan
untuk menjaga keamanan operasi boiler. Secara umum, mekanisme kerjanya adalah
apabila beban naik, maka yang bertambah terlebih dahulu adalah udara baru kemudian fuel. Sebaliknya apabila
beban turun, maka yang berkurang terlebih dahulu adalah fuel baru kemudian udara.
Dengan mekanisme seperti ini, diharapkan jumlah udara yang masuk selalu lebih
banyak dari fuel. Sehingga fuel selalu habis terbakar. Apabila mekanismenya
dibalik dimana jumlah fuel lebih banyak dari udara, maka akan terjadi akumulasi
fuel, yang bisa menyebabkan ledakan. Jika keduanya sama-sama banyak, pada
kondisi ideal tidak masalah, akan tetapi apabila respon kontrol udara lebih
lamban atau pengukuran tidak akurat atau terjadi kondisi abnormal lainnya, maka
bisa terjadi jumlah fuel yang masuk lebih banyak dari udara. Penggunaan
high-low selector pada combustion control dimaksudkan untuk menjamin kecukupan
udara pada berbagai kondisi yang tidak ideal atau abnormal.
Aplikasi kontrol override lainnya yaitu dapat dilihat
pada gambar dibawah ini :
Seperti ditunjukkan di atas, firing demand masuk pada
setpoint pengontrolan aliran udara (Spa). Ataupun firing demand masuk pada
setpoint controller rendah (SPF). Dalam hal ini HS, Spa selalu lebih besar dari
nilai firing demand aliran bahan bakar. Dan untuk LS, SPF selalu lebih rendah
dari nilai firing demand aliran udara. Jika firing demand masuk dalam jumlah
yang banyak, maka akan melewati sinyal Spa yang menyebabkan aliran udara
meningkat. Karena yang dipilih HS, setpoint udara SPF tidak akan cocok dengan
sinyal firing demand, tapi laju alir udara akan meningkat sebagai responnya.
Dan jika firing demand yang masuk sedikit, akan melewati SPF. Set point udara
Spa tidak akan cocok dan laju aliran fuel akan menurun.




